CALISTUNG: DILEMA TK-SD

Beberapa hari terakhir ini saya mulai sibuk dengan pembelajaran TK dan SD. Bukan mau jadi pemerhati pendidikan, tapi saya sebagai orang tua khawatir dengan anak saya. Saya tidak pernah tahu sebelumnya tentang materi belajar anak-anak TK dan SD. Begitu anak saya mulai masuk, saya jadi sangat ’concern’ dengan dunia pendidikan TK dan SD. Ada yang aneh dengan pembelajaran yang nyatanya membuat makin rumit entah mana yang dituntut atau menuntut untuk ‘melenceng’ dari patokan pembelajaran yang ada, yang dikenal dengan kurikulum!

Ini bulan ketiga anak saya sekolah di salah satu TK di Jakarta, dan saya mulai terkaget-kaget dengan pekerjaan rumah (PR) anak saya yang masih TK A. Menulis abjad dan angka. Tiap pagi begitu datang langsung belajar membaca, menulis dan berhitung (calistung). Wah…jadi inget itu semua pelajaran waktu saya SD,..tapi saya langsung berpikir bahwa ini sudah berapa puluh tahun dari masa saya sekolah, wajar saja pikirku. Aku pun ingat bahwa ini Jakarta! Mungkin memang pengembangan kurikulum nya begitu. Tapi semua belum menjawab pertanyaan saya. Mulaiah saya menghubungi beberapa teman yang anaknya di TK, SD atau teman yang megajar di TK dna SD. Dari situ hampir muncul jawaban yang seragam.

Kurikulum TK memang tidak menyebutkan untuk ada aktivitas calistung (membaca, menulis dan berhitung), tetapi anak akan kesulitan ketika masuk SD karena pelajaran di SD teks nya sudah kompleks dan anak dituntut bisa membaca, menulis dan berhitung. Mau tidak mau, TK pun harus mulai menyesuaikan dengan mengajarkan calistung di masa bermain anak. Guru SD pun akan kewalahan ketika calon anak didiknya belum bisa membaca dan menulis. Dan pastinya sekolah khawatir juga akan reputasi nya atas anak didiknya. Alhasil, maraknya tes masuk SD yang berdalih menyaring banyaknya jumlah siswa yang mendaftar. Padahal menurut peraturan yang ada, masuk SD cukup memenuhi kriteria usia anak saja. Kagetlah saya, meskipun dahulu sering mendengar keluhan para orang tua TK dan SD yang juga mengenai hal ini.

Makin penasaran pun saya mulai menelusuri apa sebenarnya yang harusnya saya ketahui sebagai orang tua dan juga lulusan kependidikan. Saya pun mulai mencari dan mempelajari kurikulum TK dan SD, mencermati segala gejala yang ada di lapangan dan mencari segala informasi mengenai pendidikan TK dan SD. Lemas seketika…! Bagaimana mungkin itu bisa terjadi! Dan ini benar-benar terjadi. Anak yang seharusnya bermain sambil belajar sesuai bakat dan minat serta usia perkembangannya, harus ’dipaksa’ belajar dengan tingkat lebih sulit. Anak seharusnya dirangsang dan distimulasi utuk  secara fisik dan mental mengembangkan potensi baik moral, spiritual, afektif/emosional, motorik, bahasa dan seni untuk bekal pendidikn dasar. Dan saya pun tidak tahu dari mana asal muasal belajar calistung di TK A. Ada TK yang tidak mengikuti ’budaya’ ini, tapi ternyata bukan jadi pilihan dan justru menyusun kegiatan les baca tulis. Ada TK yang menuliskan kelebihan sekolahnya memiliki program baca tulis. Bahkan ada yang menggaransi lulus TK bisa calistung.

Dilema juga! Nampaknya akan sia-sia kalau pun saya tidak menyertakan anak saya mengikuti program yang bertentangan dengan hati ini. Saya mungkin masih bisa menerima kalau sekolah tetap tidak meninggalkan aktivitas sesuia kebutuhan anak untuk bermain sambil belajar. Bagi saya mungkin solusi yang bisa ditempuh juga tuntutan untuk pengelola TK menciptakan lingkungan yang kondusif, bagi guru untuk kreatif dan inovatif mengembangkan aktivitas persekolahan taman kanak-kanak, belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Jadi biarkan anak secara alami sesuai kemampuan dna kebutuhannya mempelajari calistung tersebut melalui aktivitas bermainnya.

Bagaimana pun juga orang tua tetap memegang peranan penting dalam perkembangan anak. Sekolah memang sekitar 2 jam saja atau tidak lebih dari 20% dari siklus bermain dan belajar anak. Tapi sedikit banyak dan semakin bartambah usia, anak akan banyak di sekolah dan pengaruh sekolah juga tidak bisa diremehkan. Tidak jarang, anak akan lebih mendengarkan guru daripada orang tuanya sendiri. Kalau mengingat hal ini, semua memang tidk ada yang bisa disalahkan dan justru harus (idealnya) guru dan orang tua sangat perlu bekerja sama untuk perkembangan pendidikan anak. Tapi melihat kondisi pendidikan yang amburadul, gemes juga. Mungkin juga ada orang tua yang mengalami hal seperti saya. Tapi saya bukan orang yang memegang peran penting dalam penentu dan pengambil kebijakan baik kurikulum tersebut dan pelaksanaannya di lapangan. Tapi saya ingn tahu sebagai orang tua yang peduli dengan perkembangan anak saya. Tidak mungkin juga saya mengajari anak di rumah (homeschooling) dengan banyak pertimbangan. Saya bahkan ingin menjadi guru TK atau SD sehingga bisa benar-benar tahu apa yang terjadi. Hmmh…

Para pendidik dan orang tua TK/SD atau pemerhati pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar, mungkin bisa berbagi sehingga saya lebih paham akan berjalannya pola pembelajaran yang terjadi..?? :) Thank u..

About these ads

7 thoughts on “CALISTUNG: DILEMA TK-SD

  1. Salam kenal, miss…
    Saya adalah pemerhati, praktisi, pengelola, pendidiki dan konsultan anak usia dini. Alhamdulillah saya dan tim guru, berusaha untuk mendidiki anak usia dini dalam jalur yg smoga benar yakni sesuai dengan fitrah anak dan berkomitmen untuk memenuhi hak anak. Memang saat ini butuh satu perjuangan untuk bisa mengantisipasi implementasi “kurikulum” yg sebenarnya sdh bagus tp cacat dlm aplikasi khususnya berkaitan dengan ‘pemaksaan” calistung u AUD. Ternyata dengan bermain (sesuai dunia anak) keaksaraan yg sesuai tahap perkembangan usia anak , akhirnya alhamdulillaah sebagian besar murid saya bisa membaca dan menulis dengan sendirinya bahkan mereka melakukannya dengan senang hati, anak jd suka membaca meski kami tidak pernah menargetkan.Itu semua kami lakukan dengan suasana dan pendekatan serta metode yang sangat2 menyenangkan. Kami sangat menyadari bahwa calistung atau kemampuan akademik bukan satu2nya tujuan utama PAUD.

    • Salam kenal ibu…
      Wah senang dan bangga sekali “curhat’ saya bisa dibaca seorang yg bener2 concern di dunia anak-anak pra sekolah. Iya bu, aplikasi di lapangan msh banyak tempat belajar atau sekolah yang belum menerapkan konsep bermain spt yang ibu sampaikan.
      Yup, saya akan senang sekali berdiskusi masalah spt ini, terutama karena saya juga guru dan mempunyai anak usia TK sekarang.
      Senang bisa berkenalan.. :) Terimakasih banyak..smg ada kesempatan untk ibu baru spt saya ini untuk juga memperhatikan perkembangan anak-anak di Indonesia.

  2. Lalu, wajarkah jika dalam sekolah yang berstatus SSN terdapat murid yg belum bisa membaca? Khawatirnya anak tersebut justru minder dgn kawan2 di sekolahnya.

  3. Salam kenal…
    Saya Pendiri lembaga pendidikan anak usia dini, sekaligus pengajar, bener dech kita kewalahan menghadapi..tuntutan…zaman..anak tamatan TK harus bisa calistung…
    alhamdulillah kini sudah punya lembaga pendidikan sendiri, kita usahakan semaksimal mungkin anak bisa baca namun waktu bermain anak tidak terganggu, hampir setiap hari kita menulis dg jari menulis diawan,sebelumnya bernyanyi a,b,c,d…enam bulan diawal masuk kita tegaskan keortu yg menuntut biarkan anak-anak happy bermain insya Allah calistung tak terabaikan…..
    dan yg membuat sulit…kami pengajar anak usia dini tuntutan SD-SD unggulan harus bisa baca tulis….gimana nich…kurikulum yg semestinya ….? atau….

  4. Perlu tim kurikulum studi banding ke negara-negara Maju…….SD kan kepanjangan sekolah DASAR….ya,,,seharusnya ILMU Dasar….TK…Taman…(untuk bermain…..happy…bukan TK (Tak kerasan…anak lama-lama disitu)…Jaman Belanda…Boleh sekolah jika tangan kanan membentuk setengah lingkaran sampai telinga kiri baru boleh sekolah…. artinya…Cukup umur baru belajar total atau belajar pada umur dan porsinya….Trus siapa yg harus peduli.dan tanggubg jawab
    ..dengan KONDISI Sekarang????

  5. Nisfi.Tegal ( PPS UNNES PAUD )
    Wah…sy paling suka klo bahas ini,rupanya kita sepaham,sy jg pendidik Paud,berusaha bngt dgn cara pembelajaran yg sesuai dg kebutuhan anak,yaitu belajar sambil bermain. Yo..kt gabung menjadi pengubah pola pembelajaran di Paud yg benar.Kasihan anak2 kt……..bnyk skli pendidik yg msh menggunakkan pola pemaksaan terhadap anak dlm mengajarkan calistung….sepertinya antara ilmu dan pelaksanaan tdk SINKRON…………..salah siapa ini ….?????? ngeriiiiii dech

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s