PRT: ‘Penguasa’ Rumah Tangga???

PRT: “PENGUASA” RUMAH TANGGA???

by: Sri Lestari

Anda anak kos?? Ibu rumah tangga?? Atau lajang yg super duper sibuk??? Boro-boro buat beres-beres rumah, menyiapkan makanan, atau mencuci baju…untuk sekedar tidur saja mungkin nyaris ga sempat…Ternyata selalu ada solusi!!! Tuhan yg Adil telah menciptakan manusia yg ditakdirkan belum sempat mengenyam pendidikan tinggi, tinggal di desa jauh dari akses informasi, dan ekonomi yang kurang memadai. Merekalah orang2 yang selama ini banyak dicari untuk menjadi PRT, pembantu rumah tangga. Seiring perkembangan zaman dan teknologi informasi dan komunikasi, PRT makin menggila saja, bukan hanya jumlahnya, ketrampilannya, tapi juga nilai tawarnya. Buktikan saja, makin sulit mencari PRT, karena sebagian besar orang mulai beralih pola pikir menjadi buruh pabrik atau toko, TKI di luar negeri daripada menjadi PRT.  Kalau pun dapat, sebagian dari mereka menjadi ‘penguasa’ rumah tangga. Waspadalah!!!

Meskipun kini banyak jasa cleaning service panggilan, laundry, catering, tempat penitipan anak, full day school, pijat refleksi, dan jasa security, sebagian besar orang baik single maupun berkeluarga masih memilih memiliki pembantu rumah tangga (PRT) baik harian maupun menginap. Ada saja jenis problema mereka. Anak kos yang tinggal di rumah sendirian, butuh pembantu. Keluarga yg sibuk bekerja butuh pembantu. Keluarga yang sibuk dgn anak dan juga bekerja, butuh pembantu, rumah kos juga butuh pembantu kos, bahkan ibu-ibu nganggur yang demi gengsi juga butuh pembantu. Wah..jadi laris manis nampaknya bisnis penyalur pembantu dan babby sitter. Pak lurah di pedesaan juga sibuk mendata warganya yang siap bekerja. PRT yang mulai usia belasan tahun hingga puluhan tahun ini masih banyak yang tanpa bekal pengalaman atau ketrampilan, meski banyak juga yang mengikuti kursus/sekolah PRT. Nampaknya tiap dari mereka sudah ada segmentasi pasar masing-masing.

Pengalaman saya pribadi, sampai sekarang sudah 7x ganti pembantu sejak kehamilan saya tahun 2006. Mereka semua dari desa, ada yang berpengalaman, ada yang sama sekali belum pernah bekerja sbg PRT. Usia ternyata juga mempengaruhi kinerja. Yang masih 14 tahun, belum bias bekerja dgn baik, yang hampir 20 tahun kebanyakan pacaran dan siap menikah kurang konsentrasi bekerja, yang sudah berkeluarga jadi kebanyakan ijin pulang, yang lebih tua dan berkeluarga sulit diberi instruksi, merasa sok tahu…semua nampaknya serba salah…Namun kunci dr mempekerjakan pembantu baik harian maupun menginap adalah KEJUJURAN dan TOLERANSI.

Pertimbangkan baik-baik kalau Anda memang membutuhkan pembantu. Berikut beberapa pertimbangan yang bias diambil:

  • Tentukan PRT harian atau menginap, sesuaikan kebutuhan. Apakah Anda punya tempat untuk PRT menginap? Apakah Anda merasa nyaman dgn orang lain di rumah Anda? Bila memang PRT juga menjaga anak Anda, atau menemani Anda di rumah, sebaiknya pilih yang menginap. Resiko PRT harian yaitu konsistensi kehadiran dia sehari-hari. Selain itu, bayangkan saat Anda pulang dan harus mengerjakan banyak hal, tidak ada pembantu saat dibutuhkan. Waspadai juga pembantu yang datang dan pergi saat Anda tidak di rumah, bisa jadi PRT jg menjadi inforwoman bagi tindak kejahatan.
  • Tentukan apakah Anda akan mengambil dari agen atau langsung ke PRT tanpa agen. Melalui agen, Anda memang lebih aman secara hukum dan jaminan kerja, tetapi harga cenderung mahal dan kebanyakan aturan. Mengambil PRT langsung pada org ybs, kadang mereka belum siap kerja jadi harus diajari, tapi soal harga bisa nego dan berlaku aturan kekeluargaan.
  • Pastikan identitas PRT baik harian, menginap dari agen maupun individu. Pastikan tahu tempat tinggalnya, alamatnya, keluarganya, latar belakang keluarga. Mintalah copy KTP atau Kartu Keluarga dan contact salah satu keluarganya.
  • Pertimbangkan usia kerja PRT. Seperti ilustrasi saya di atas, ada yang 12 tahun, 20an tahu, usia sama dgn Anda atau yang lebih tua dari Anda.
  • Pertimbangkan pengalaman kerja. Berapa lama bekerja? Dimana? Tugas sebelumnya?  Hal ini biasanya menentukan besar gaji yang dia inginkan.
  • Tanyakan apa saja yang dia bisa: memasak, bersih-bersih, mengasuh anak, mengendarai motor/menyetir mobil, memijat, dll.
  • Tanyakan tentang kondisi kesehatan, kebersihan, dan kerapian. Pastikan tidak punya riwayat kesehatan yang buruk atau menular. Apakah dia mabuk perjalanan, makanan yang dihindari, alergi, dll.
  • Deskripsikan tugas rumah dengan baik dan detail. Buatkan daftar, dan sampaikan di awal sebelum mulai bekerja. Adakan training, meski dia sudah pengalaman, minimal pengenalan rumah dan kebiasaan di rumah Anda. Ini akan berjalan paling cepat 3 hari.
  • Diskusikan besar gaji. Pertimbangkan pengalamannya, tugas kerja nya, negosiasikan bagaimana pemenuhan kebutuhan makan dan keperluan pribadinya.Bahkan sesuaikan dgn harga pasaran pembantu di sekitar Anda. Jika dirasa terlalu sedikit, tambahan uang sbg bonus.
  • Sepakati di awal jam kerjanya. Menginap atau tidak. Berapa hari/mingu/bulan sekali dia boleh pulang. Bagaimana dgn kunjungan teman atau keluarga. Anda akan memberi libur kapan, dsb.
  • Tempatkan posisinya sebagai orang yang membantu Anda, bukan yang mengatur Anda. Namun ada saatnya tempatkan dia sebagai partner atau keluarga, karena PRT juga manusia, ada kalanya dia bermasalah dan itu menjadi bagian tanggungjawab Anda. Berikan waktu istirahat secukupnya. Beri kesempatan dia mengembangkan diri dan belajar.
  • Selama bekerja, pastikan Anda membatasi ruang geraknya bahkan ketika dia nampak jujur. Hal ini hanya untuk waspada saja untuk kemungkinan terburuk. Meski sudah dianggap anggota keluarga, dia tetap orang lain. Berusahalah untuk mengakomodir keinginannya asal tidak Anda yang dimonopoli. Usahakan Anda tahu teman-teman bergaulnya.
  • Khusus bagi yang mengasuh anak, pastikan dia sayang anak-anak..tahu dunia anak..cek setiap saat ketika Anda bekerja dgn menelepon ke rumah atau sesekali tanyakan ke anak tentang jam selama bersama PRT. Untuk yang satu ini, tugas PRT hanya menjaga, bukan mendidik anak.
  • Hindari menahan pembantu rumah tangga jika dia ingin pulang atau berhenti bekerja, karena semakin ditahan, semakin banyak tuntutan. Bisa jadi kalau tetap ditahan, ada hal yang tidak kita inginkan semacam kerja tidak beres, anak dicuekin dan gesekan-gesekan lain yang menimbukan ketidaknyamanan. sambil menyiapkan solusi atau pengganti, ajaklah PRT berbicara baik-baik, sampaikan bahwa Anda tidak apa-apa jika dia ingin berhenti meski dlm hati Anda sungguh sangat membutuhkan. Berpikirlah logis dan cerdas, hindari ketergantungan sebisa mungkin.

Beberapa hal di atas semoga bisa jadi bahan pertimbangan Anda memilih PRT atau pengasuh anak.Bagaimanapun, Madang karena kondisi yang menuntut kita memiliki PRT menjadi dilemma tersendiri, tapi prinsipnya bila Anda berkeluarga, PRT untuk membantu ibu rumah tangga karena ibu lah yg bertanggunjwb atas urusan rumah tangga. Jadi tidak selayaknya juga bila pembantu pulang, rumah tangga kacau dan macet tak bisa apa-apa. Dan bahwa PRT juga manusia biasa, jangan remehkan perannya namun juga jgn terlalu memberinya jalan untuk menguasai rumah tangga. Sehingga PRT memang bukan ’penguasa’ rumah tangga.

3 thoughts on “PRT: ‘Penguasa’ Rumah Tangga???

  1. Mba, PRT saya sudah tua, lebih tua malah, dan memang benar saja, orangnya susah diberi intruksi dan merasa ‘sok’ tahu, kerjaannyapun asal-asalan, nyuci piring ngga bersih,masakan kadang jadi ancur, dia dari kampung, dan ngakunya baru bisa masak waktu kerja di ‘Warteg’, kerjaannnya memang semua dikerjakan tapi ngga ada yang bener/TOTAL, Andalannya cuma satu, anak saya yang bayi dekat banget sama dia, malah hampir-hampir lebih dekat dari pada ke saya…. dia saya gaji 325.000, (belum kerja setahun), ditambah uang lembur lewat dari jam lima selama 4 hari dalam seminggu sebesar rp. 6000 , tadinya, setelah dia minta ditambahin jadi 7000, ya saya tambahkan, ditambah minggu dihitung lembur 10.000, pulang setengah hari, sabtu pulang seperti biasa harusnya, tapi dia minta setiap sabtu pulang setengah hari, jadi saya berikan juga, gaji totalnya bisa mencapai rp.477.000 belum ditambah makanan matang setiap hari, dia juga sering mengeluh kepada saya tidak punca rice cooker, akhirnya saya berikan punya saya yang lama, dan saya beli yang baru, saya melakukan itu semua agar dia betah kerja sama saya, memang kesannya saya sangat ketergantungan dengannya, tetapi memang anak bayi saya dekat sekali sama dia, dia pernah bilang mungkin dia mau berhenti saja sebentar lagi tapi, ngga tau berubah fikiran atau gimana, dia ngga ngomong gitu lagi ya,,, apa dia termasuk “memanfaatkan” saya?
    saya sempat berfikir untuk memecatnya, dan menggantinya dengan yang menginap, karena gajinya setara dengan gaji pembantu menginap,terlebih dia belum setahun bekerja, tapi kebetulan dirumah saya kamarnya sudah penuh, bingung juga kalau harus ada yang menginap, dan kalau diganti , nantinya takubayi saya tidak cocok dengan yang lain, duh, bagaimana ya mbak dua anak saya yang satu smp dan satu lagi sd, juga ngga terlalu suka sama dia, tetapi ngga tau kenapa saya ngga bisa berbuat papa-apa sama pembantu saya, yang ada saya terus ngasih dan ngasih, kemarin saya baru memberikan sofa lama saya padanya,,, gimana ya mbak? apa saya harus pertahankan dia karena lengket sama bayi saya, atau pecat dia?
    Orang nya sih juujurlah, tapi usil sama tetangga2 saya, ngomongin Bu inilah,bu itulah ,kan saya yang ngga enak, kerja ngga bagus, cuma bayi saya nempel,itu susahnya,,, maksud saya ngasih macem-macem ya biar dia kerjanya lebih ikhlas….. tapi saya masih ngga sreg….. gimana ya mbak… ada solusi,saran?
    terima kasih ya mbak..
    wassalammu’alaikum

    • Dear mba Nisa…
      wah..problem PRt emg jadi top topic apalagi hbs lebaran gini. Mmm…yg mbak alami jg dialami sebagian besar ibu. Tinggal dilihat fungsi dia lebih ke pekerjaan rumah atau mengasuh bayi. Dua hal tersebut agak susah kalo dikerjakan satu orang dan sulit mencari orang yang mampu keduanya. Kalo yg diutamakan bayi nya, ya..lihat saja bagaimana dia mengasuh bayi apakah sdh baik, bukan saja dekat. Kalo bayi kan masalah kebiasaan saja, jadi dgn siapapun yang sering berada di sampingnya akan membuat dia nyaman. Jadi evaluasi nya mungkin tdk ke pekerjaan rumah harian tapi ke cara mengasuh si anak. Mulai dari kebersihan, cara komunikasi dll. Kalau memang cukup kompeten, berarti maksimalkan pada mengasuh anak-anak mbak.
      Yup..makin banyak diberi makin tinggi tuntutannya. Slaah satunya dgn mengancam keluar. Dia merasa bahwa si anak sudah dekat dan tahu kalo mbak bakal kewalahan kalo ditinggal. Itu hal biasa, tp jgn juga dengan mudah menuruti sgala kemauannya. Mbak jg harus punya bargaining position, dan bersiap mencari solusi lain ketika dia memang harus keluar atau dikeluarkan. Apalagi dia kan nggak nginep, di rumah juga da anak-anak mbak (kakak si bayi) jadi masih ada alternatif lain, misal cari yang lebih bisa diajak kompromi, atau memilih day care (tempat penitipan anak). Baca artikel saya tentang DAY CARE: Solusi Cerdas Ibu Bekerja. Semoga bermanfaat dan dapat gambaran.

      Salam hangat dan sukses ya mom..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s