MY UNFORGETTABLE MOMENT…

MY UNFORGETTABLE MOMENT

 

Menjadi ibu adalah harapan setiap wanita menikah. Meski tidak semua istri beruntung dengan cepat memiliki momongan, namun di lubuk hati terdalam, mereka pasti mendambakan keturunan dari hasil perkawinan.

Saya termasuk beruntung mungkin (menurut saya) karena langsung mendapat kepercayaan dari Tuhan untuk mendapatkan momongan setelah saya menikah 2005. Hari-hari kehamilan kulalui dengan penuh semangat meski saat itu merasa sangat belum siap. Tidak siap bukan hanya mental tapi juga material. Tapi satu yang saya dan suami percaya bahwa tiap insan hadir dengan rezeki masing-masing dan segala keputusan memang ada resiko yang menyertai. Kesulitan dan tangtangan menjelang kelahiran putra pertama kami sungguh ujian berat yang benar-benar kami rasakan, dan kami puas bis melewatinya dengan baik sekarang.

Jum’at, 10 February 2006, usia kehamilanku hampir 8 bulan..pagi-pagi saat suami baca koran di depan rumah kontrakan kami, saya bilang kalo pagi ini jadwal periksa ke dokter kandungan. Suami bahkan sempat mengatakan malas ke kantor hari itu. Akhirnya sambil saya berangkat kerja, mampirlah ke RS bersalin untuk kontrol kehamilan. Tidak bertemu dokter, bidan pun OKE. Setelah diperiksa, bidan menyampaikan kalau denyut jantung bayi kami terlalu cepat..sebaiknya saya stay di RS dan bayi dilahirkan saja bila memungkinkan. Setelah melalui USG dan pemeriksaan dokter yang saat itu datang agak siang, akhirnya kami setuju untuk melahirkan bayi kami. Suami mengurus cek in saya di rumah sakit lalu mngantar saya ke tempat kerja untuk mengambil cuti melahirkan. Saya juga masih sempat meninggalkan tugas untuk anak-anak yang saya ajar saat itu.

Usai sholat Jum’at saya resmi masuk ke kamar VIP 1 di lantai 2..beristirahat dan menunggu periksa bidan jaga, kondisi detak jantung bayi makin cepat. Sore langsung dipasang infus dan oksigen, saya pasrah saja. Suami saya juga khawatir, mungkin juga pusing saat itu dia harus memikirkan biaya persalinan yang belum siap. Kasihan…dia baru mulai bisnis barunya..masa transisi yang cukup berat baginya, saya paham…

Malamnya setelah isya, saya masuk ruang tindakan persalinan di lt.1 berderet dengan 3 ibu hamil yang hendak melahirkan juga. Masih dengan infus dan oksigen serta obat pemacu, baru buka 2..ah..masih lama pikirku. Aku menunggu reaksi proses pembukaan di ruang tindakan ditemani suami. Yang saya tidak suka saat itu adalah teriakan dan makian dari ibu di sebelahku yang hampir melahirkan..Ah..males kl inget ketidakikhlasan dia melahirkan!!! Dan hingga jam 1 malam, saya meminta kembali ke kamar karena tidak ada reaksi sama sekali. Denyut jantung bayi kami fluktuatif dan proses pembukaan tidak bertambah.

Sabtu pagi, 11 February 2006, bidan dan dokter mendatangi kami di kamar dan menyampaikan akan deberikan obat pemacu lagi, jika tidak ada kemajuan sore itu, maka operasi caesar adalh jalan satu-satunya malam itu. Kami siap, meski saya tahu beratnya suami saya ketika harus menjalani operasi di RS itu. Tapi itu membuat saya semnagat untuk tetap bisa melahirkan normal. Semoga sang bayi tahu keinginan kami…Setelah dhuhur, saya masuk lagi ke ruang tindakan..dgn penambahan dosis pemacu..saya mulai merasakan mules perut menjelang Ashar…Sebentar-sebentar ke kamar mandi..Saya berusaha tenang dengan meminta headset untuk mendengarkan musik..saya juga terus berdoa semoga diberi kekuatan..saya tidak sanggup lagi menahan sakit!! Dan saya tetap diam ..sampai jam 5 sore..mengejan semakin hebat dipandu bidan siaga..Kadang mereka meminta saya menahan untuk mengejan karena detak jantung bayi yang tidak stabil..terlilit tali pusar yang sangat puanjang….!! dan indikasi bayi kami tercekik tali pusar nya sendiri..

Saya hanya butuh tangan suami saya, musik di headset dan doa dalam hati…Suami masih sempat mengabadikan proses persalinan saya, meski sambil meneteskan air mata, tak kuasa melihat saya kesakitan.. Tepat saat adzan magrib..bayi kami lahir..Alhamdulillah..Saya masih bisa mendengar tangisan dan memeluk bayi saya laki-laki berat 3,8 kg panjang 54 cm..Saya juga masih sempat mendengar para bidan berusaha menghibur sambil melakukan jahitan pada jalan lahir..Saya jg masih sempat mendengar sayup-sayup adzan suami saya untuk anak kami..dan saya mulai tidak ingat apa yang terjadi setelah itu..pingsan..dan tersadar kembali ketika hendak naik ke kamar perawatan..saya kehilangan tenaga…habis…tapi saya bangga, bahagia bukan main ketika itu…saya benar-benar menjadi ibu..tantangan baru untukku…tidak pernah bisa melupakan moment bahagia ini… Terimakasih ya Allah…Selamat datang dedek bayi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s