MENUNGGU ANAK BELAJAR DI SEKOLAH

Tahun ajaran baru akan segera di mulai…Ibu-ibu, mama, bunda, papa, ayah, bapak, kakek, nenek, mbak pengasuh..harap mempersiapkan diri…!!!

Hmm…para orang tua yang sudah ada pengalaman anak usi sekolah pastinya tidak kaget lagi dengan aktivitas yang harus dilakukan yakni : mencari sekolah terbaik untuk anaknya dan mencukupi kebutuhan sekolah, termasuk hal rutin ANTAR-JEMPUT sekolah! Bahkan ada hal yang juga tidak kalah pentingnya untuk orang tua anak usia pra sekolah dan TK yaitu MENUNGGU anak belajar di sekolah!

Kedengarannya menunggu i anak belajar di sekolah adalah aktivitas tidak penting sama sekali (seperti yang saya pikirkan saat itu). Tetapi ada dua hal yang ’memaksa’ orang tua, terutama para ibu, untuk melakukannya. Pertama karena si anak belum menjadi anak yang mandiri dan pemberani. Mungkin karena usia yang masih pra sekolah (preschool) atau taman kanak-kanak, sehingga para ibu harus merelakan sebagian waktunya untuk menunggu anaknya di sekolah. Kenyamanan dan keamanan unuk si anak pastinya ketika ada org terdekat yang berada di sekitar lingkungan barunya. Kedua, faktor orang tua yang belum tega melepas anaknya bersekolah, atau orang tua yang tidak banyak aktivitas sehingga dari pada hanya antar-jemput, para ibu berpikir untuk antar-tunggu-jemput. Lebih hemat waktu dan biaya, benarkah?? Yuk kita lihat fenomena ibu-ibu yang menunggu anak-anaknya di sekolah baik prasekolah, TK maupun SD! Apa aja sih aktivitasnya??

Ulasan ini berdasar pngalaman pribadi saya yang juga memiliki anak usia sekolah, yakni 5 tahun, bersekolah di TK A. Tahun 2009/2010 saya memasukkan anak saya di playgroup swasta dan ternama di Yogyakarta, lalu tahun 2010/2011 ini saya memasukkan anak saya TK A juga di TK swasta di Jakarta. Beberapa kali karena pekerjaan saya berkaitan dengan pendidikan, saya berkunjung ke beberapa sekolah TK dan SD baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Memang observasi saya ini belum meluas hngga luar Jawa atau ke bagian lain pulau Jawa. Namun dari  dua kota tersebut, saya menemukan banyak persamaan mengenai peran orang tua dalam menemani anak mulai memasuki usia sekolah. Saya sudah melakukan pengamatan dan sekedar ngobrol dengan para ibu yang menunggu, baik di sekolah anak saya, atau pun sekolah lain baik negeri maupun swasta.

Hasil observasi dan obrolan saya ternyata sungguh luar biasa. Aktivitas ibu-ibu yang menunggu sangat bervariasi, ada yang positif tapi tidak sedikit pula yang negatif. Meskipun skala dan jenisnya berbeda, sesuai tingkat social ekonomi, Namur pada dasarnya aktivitas mereka sama dan saya simpulkan bahwa menunggu anak belajar di sekolah adalah sesuatu yang TIDAK PENTING!! Bukan berarti saya melarang atau tidak setuju, tatapi saya akan juga sampaikan solusi menunggu yang cerdas di bagian lain tulisan ini.

Menunggu anak belajar di sekolah biasanya dilakukan para ibu. Begitu anak masuk kelas, ibu-ibu mulai berkumpul, ngobrol, makan bersama, ngerumpi, arisan, jual-beli barang, pamer barang baru, shopping, ke salon, pengajian, membuat baju seragam ibu-ibu, piknik, dan seabreg agenda lain. Dari semua kegiatan tersebut, ada sih yang bermanfaat dan positif, ad aula yang cenderung negatif semisal jadi ajang pamer, jadi kelompok ngerumpi yang hot yang ujung-ujungnya menimbulkan kesombongan, iri, pemborosan, bahkan tidak jarang para ibu yang umumnya ibu tidak bekerja (ibu rumah tangga) tersebut menjadi lebih berani dan mandiri karena memiliki kelompok tempat melepaskan perasaan setiap saat dan merasa ada back up atas apa pun yang dilakukan. Lebih jauh dan negatif justru para ibu berganti “lifestyle” karena terpengaruh. Bayangkan saja, akibat yang ditimbulkan, pastinya imbas ke suami atau para bapak juga dan secara tidak sadar ibu jug atelah mengajarkan hal yang berlebihan lepada anak, mungkin hal yang cenderung negatif.

Salah satu contoh teman saya yang menunggu anaknya di sekolah. Para ibu sudah datang dengan merk mobil yang berbeda, pastinya kalau ada yang baru langsung dia pakai untuk jalan bersama ke mall atau ke salon. Selain itu juga baju, asesoris dan make up yang berlebihan. Bukan masalah kerapian atau harga dan sebagainya, yang jadi masalah adalah ‘pamer’ dan menjadi bahan rumpian sehingga memicu persaingan ibu yang lain untuk turut membeli yang lebih bagus. Atau obrolan yang cenderung berlebihan, misal tentang liburan ke Hongkong, suami yang naik jabatan, anak yang jadi bintang iklan, lulus cum laude, atau sekedar pembantu baru. Tidak jarang juga bergosip tentang teman lain, guru, artis atau sekedar mall baru atau salon baru bahkan justru membuka aib keluarga sendiri. Semua hal yang ada dalam kelompok itu seolah mulai menyeragam dan menjadi ikatan yang kuat. Kegiatan pengajian dan bakti sosial nampaknya positif, namun ternyata justru disalahgunakan dengan pamer barangbarang yang disumbangkan, atau berlomba memberi sumbangan yang paling besar. Mengaji harus keliling dari satu rumah ke rumah lain dan ujung-ujung nya pamer makanan dan pamer rumah dengan segala perabot yang ada sekaligus arisan. Iuran ini itu mulai dari iuran piknik, iuran kado untuk guru, iuran jahit baju seragam ibu2 dan sebagainya. Gejala itu ternyata tidak hanya terjadi di sekolah swasta dengan tingkat ekonomi menengah ke atas, namun juga yang menengah ke bawah. Secara garis besar, aktivitasnya sama!

Saya tidak serta merta mencari siapa yang salah. Tidak ada yang perlu disalahkan. Satu sisi, sekolah sudah melarang orang tua menunggu anak di sekolah dengan membuat peringatan di depan sekolah agar orang tua/pengantar hanya sampai di pintu gerbang. Bahkan pintu gerbang ditutup ketika kelas akan dimulai dan orang tua di mohon meninggalkan area belajar mengajar. Namun itu sangat tidak ampuh, tetap saja mereka mencari tempat yang nyaman dan mulailah aktivitas tersebut. Mungkin sekedar mencari tempat makan bersama atau ngobrol ringan. Kadang ibu masih khawatir ketika anaknya menangis mencari ibunya, atau menyuapi bekal anak, khawatir berantem, atau membantu mengganti baju anak, atau apapun tentang aktivitas persekolahan anak. Anak justru tidak diberi tanggungjwab untuk membantu dirinya sendiri mengatasi masalah nya di sekolah. Sisi lain, kadang juga para ibu tidak enak kalau tidak ikut bergabung dengan ibu-ibu lain di sekolah, takut terkucil sehingga mau ga mau juga bergabung agar tetap up to date dan tetap menjadi ’keluarga’ angkatan tersebut. Hmm..banyak faktor yang menimbulkan gejala seperti ini terjadi di sekolah pra TK, TK dan SD.

Hal positif yang bisa diambil ketika dekat dengan para ibu penunggu adalah cepat mengontrol perkembangan belajar anak di sekolah, tidak ketinggalan info sekolah anak, menambah teman dan wawasan, silaturahim dan meningkatkan kreativitas dengan belajar dari ibu lain yang bisa memasak tertentu, membuat sesuatu atau berbagi ilmu lain. Itu hanya kan terjadi ketika menunggu disikapi secara positif. Jika tidak, maka akan berakibat fatal.

Maka para ibu, yuk menjadi ibu cerdas dengan menunggu anak di sekolah secara cerdas juga! Atau step by step, kita percayakan pengasuhan di sekolah kepada pihak sekolah, percaya bahwa anak kita adl anak yang mandiri!!

2 thoughts on “MENUNGGU ANAK BELAJAR DI SEKOLAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s