DILEMMA PENGAWAS UN

Hallo Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru…sudah siap mengawas Ujian Nasional (UN)?? Yang guru SMA/SMK pasti sudah donk ya..kan tinggal 1 hari lagi…Yang SMP dan SD juga harus bersiap. Tentunya semua pengawas sudah mendapat sosialisasi Tata Tertib Pengawas Ruang Ujian Nasional ya.. sekaligus Surat Tugas akan mengawas di sekolah mana. Sebagian besar bahkan sudah tahu akan bersama siapa saat mengawas nanti. Karena ini pasti bukan hal baru bagi pengawas ruang UN, tentu tidak ada persiapan khusus dan santai saja seperti ujian biasa di sekolah. Tapi pernahkah Bapak/Ibu mengevaluasi diri tentang bagaimana Bapak/Ibu mengawas selama ini? Sudahkah menjalankan tugas mengawas dengan sebaik-baiknya atau sekedar menunggu anak-anak mengerjakan soal Ujian Nasional??

Sepanjang pengalaman saya menjadi pengawas UN, masih banyak para guru yang belum menjalankan tugas dengan pengawasan dengan baik. Masih ada saja yang sekedar datang dan menunggu anak mengerjakan soal UN. Ada pengawas yang begitu tahu di sekolah mana bertugas langsung bisa tahu karakter para siswa nya, ada yang mengeluh masalah anak-anak yang suka gaduh mencontek, ada yang mengeluh soal snack dan makan yang diberikan kurang sesuai selera, ada yang mengeluhkan soal ruangan sekolah yang kurang memadai, bahkan sekedar partner dari sekolah asal atau partner mengawas satu ruangan. Tidak menutup kemungkinan memang para pengawas membawa gengsi sekolah, ditunjukkan dengan cara berpakaian dgn memilih seragam atau baju apa besok, sampai duduk berkelompok di ruang pengawas. Ada juga yang sudah mulai senang karena akan bertemu sasama guru di sekolah tersebut dan alhasil nanti bisa ngerumpi di sana. Ada saja cerita pengawas sebelum hari ‘H’.

Saat mengawas pun tiba. Lalu apa yang biasanya terjadi? Masih ada pengawas yang datang terlambat dengan berbagai alasan. Masih ada pengawas yang tidka menjalankan tata tertib yang telah disampaikan sebelumnya, pengawas kurang teliti membuka soal, membagikan soal, mengisi berita acara, mengumpulkan lembar jawab dan memasukkan ke amplop sehingga banyak terjadi kesalahan yang tentunya menjadi kerepotan panitia UN. Ada juga pengawas yang asik bermain hape atau mengobrol selama mengawas ruang ujian. Tidak sedikit juga yang mengantuk hingga tertidur, atau asik membaca koran, buku dan lainnya untuk menghindari kantuk hingga bel berbunyi. Ya memang mengawas selama 2 jam tidak seasyik menonton film dengan durasi sama, tapi begitulah kenyataan yang ada, meski tidak semua, sebagian besar melakukan kegiatan tersebut.

Sedikit banyak, pengawas juga menjadi faktor kenapa anak-anak peserta UN akhirnya nyontek. Anak-anak sekarang lebih cerdik menggunakan kelengahan pengawas. Seperti sering dikatakan bahwa kejahatan bisa terjadi karena kesempatan termasuk mencontek saat UN. Apakah pengawas benar-benar tidak tahu? Saya rasa sebagian besar tahu saat anak-anak mencontek. para pengawas adalah guru yang telah mengajar sekian tahun, hanya sedikit saja guru yang tidak tahu kalau siswa sedang mencontek atas kelihaian siswa sekarang. Lalu kenapa pengawas masih diam saja? Beberapa teman yang saya ajak bicara soal ini mengatakan bahwa mereka kasihan terhadap siswa, pengawas membayangkan kalau itu anak mereka dan benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan dan akhirnya tidak lulus, kasian! Ada juga yang mengatakan nagapain repot-repot menangkap anak mencontek, biarin aja, toh bayaran mengawas beneran sama yang santai sama saja. Hohoho. Lain lagi dengan pengawas yang takut nanti saat pulang dihadang anak peserta ujian yang bertindak nekat karena marah kalau ketahuan mencontek. Alasan lain adalah yang penting anak tidak gaduh, nyontek tidak apa-apa. Ada lagi yang membiarkan karena baru sekali dan belum terlalau mencolok sehingga tidak apa bertukar jawaban UN, dan masih banyak alasan kenapa pengawas berdiam saat anak mencontek. So???

Saya tidak akan menyalahkan siapapun di sini, toh biasanya ada tim pengawas independen dari dosen dan mahasiswa yang berkeliling. Juga ada panitia sekolah yang membantu meringankan tugas juga. Saya juga guru yang mengawas UN jd saya bisa memahami teman-teman semua dengan segala alasannya. Namun dalam diri saya ada idealisme, seandainya saja setiap individu termasuk pengawas menjalankan tugasnya dengan baik, tidak perlu saling menunggu berbuat benar, tentu akan meminimalisir anak mencontek dan UN yang menjadi momok bagi para siswa. Saya membayangkan pengawas ujian yang tegas, bijaksana, helpful, inisiatif, sabar dan teliti. Dimanapun dan dengan siapapun ditugaskan lalu tidak akan jadi masalah meski dengan berbagai tipe siswa.

Biasanya para siswa sudah ‘janjian’ kalau mau mencontek sebelum masuk ruang ujian bahkan sudah ada yang menyiapkan jauh-jauh hari. Siswa juga akan menggunakan waktu dengan baik. Sejam pertama pasti tenang, setelah itu mereka akan memulai aksi mencontek atau bertukar jawaban. Saat satu jam kedua itulah pengawas memang sedang bosan-bosannya. Untuk referensi para pengawas, beberapa trik siswa bertukar jawaban di dalam ruang UN: menggunakan kode jari, menggunakan kode jarum jam, menggunakan hape yang disembunyikan di sepatu, diselipkan di balik celana/rok/kerudung/baju yang jarang disentuh dan bahkan tidak mungkin disentuh pengawas, meminjam alat tulis seperti penghapus dan rautan pensil, menulis kunci jawaban di kertas kecil diselipkan di laci meja, sepatu dan tempat-tempat ‘nyempil’ lainnya.menggunakan kode-kode bahasa tubuh dan masih banyak lagi. Yang sedang tren saat ini adalah penggunaan hape dengan trik yang makin tahun makin canggih.

Tidak perlu panik Bapak/Ibu pengawas, karena tentu para pengawas sudah lebih fasih soal gerak-gerik siswa mencontek. Pengawas juga paham akan akibat untuk siswa ketika mereka ketahuan mencontek dan tertulis di berita acara. Yang diperlukan oleh pengawas adalah keberanian! Saya memang berkali-kali menemukan anak mencontek selama mengawas UN dan selalu selesai saya tindak dengan peringatan meskipun saya belum pernah menmui langsung yang fatal. Alhamdulillah tidak ada akibat fatal yang saya dapat, semacam dihadang dan dihajar siswa di tenagh jalan pulang. Mungkin mereka benci dengan saya, tapi itulah resiko karena setiap pekerjaan ada resiko. Tidak untuk menggurui Bapak/Ibu yang juga menjadi pengawas bahkan lebih lama dari saya, namun mengingatkan kita bersama untuk memutus pola kebohongan dan korupsi kecil-kecilan di level UN dengan tindakan tegas dan komitmen dalam diri untuk berbuat baik dan benar.

Mari kita koreksi bersama dengan pikiran positif, abaikan dulu segala isu UN,  bahwa UN ini evaluasi untuk mengukur pencapaian potensi siswa dan bukan hal yang harus ditakuti untuk mencapai target tertentu dengan kebohongan dan kecurangan.

Selamat menempuh UN 2011/2012 anak-anakku…! Selamat mengawas, Bapak/Ibu guru…!

One thought on “DILEMMA PENGAWAS UN

  1. mau tanya,
    apakah tugas pengawas hanya mengawasi saja.tidak mengecek LJK siswa misal siswa ada yang kurang ataupun salah dalam mengisi identitas di LJK,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s