MINAT BACA SISWA RENDAH, SALAH SIAPA..??

Baru saja selesai kami mereview map portofolio para siswa SMA Tunas Nusantara. Variatif. Sudah kelihatan mana anak yang berinisiatif rajin belajar sendiri, mana yg belum. Yang paling saya soroti adalah hasil synopsis program membaca di sekolah kami yang kami beri nama DEAR program, Drop Everything And Read. Terimakasih untuk Mrs. Rebecca Fletcher atas inspirasi yg disampaikan dalam materi workshop “Buliding English Language Skills through Graded Readers”.

Berawal dari keprihatinan saya terhadap minimnya wawasan siswa. Bahkan ada anak yang belum lancar membaca di usianya yang sekitar 16 tahun ini. Sejumlah buku pelajaran di sekolah tidak menarik perhatian siswa, sehingga siswa lambat belajar. Akses internet yang ada di sekolah juga sebatas dimanfaatkan untuk facebook-an, kecuali ada tugas guru untuk mencari informasi atau belajar dari internet. Tidak maksimal. Maklum saja karena anak-anak di sekolah kami berasal dari keluarga pra sejahtera( anak nelayan, pemulung, buruh, dll) dan hampir semua dari broken-home family. Sekolah mereka sebelumnya ada yang dari SMP terbuka, selain juga SMP negeri dan MTs.. Kenapa sekolah meluluskan anak-anak yang seperti ini? Tidak bisa baca, tidak bisa menulis, berbicara jg tidak tertata, berhitung belum bisa, kenapa bisa diujikan dan lulus di SMP terbuka? Salah siapa? Tanggungjawab siapa? Bahkan siswa kami ada yang dikeluarkan dari SMA Negeri karena dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran. Trus gimana coba?? Membaca saja sulit.

Guru dalam bahasa Jawa singkatan dari diguGu lan ditiRu. Artinya apa yang diucapkan guru, dipatuhi siswa, apa yang dilakukan sang guru harus bisa dicontoh oleh para siswa. Dahsyat. Lalu bagaimana guru-guru di sekolah kami? Minat baca juga tinggi? Saya pernah menanyakan pada para guru saat monthly meeting, berapa kali dalam sebulan membaca? Buku apa saja yang dibaca? Dll. Hasilnya: NOL. Guru saja malas membaca. Paling-paling baca materi dan informasi di internet, browsing-browsing trus update di akun social media tanda eksis. “Haduh. Gawat ini. Pantesan aja siswanya juga malas baca. Jangan_jangan dulu di SD, SMP juga guru-guru mereka seperti itu. “ Oke, positive thinking saja, mungkin guru terlalu sibuk menyiapkan dan mengajar sampai evaluasi hingga tak sempat baca buku atau sejenisnya.
Semua itu tentu lepas dari pembicaraan soal bagaimana orang tua membaca. Dari latar belakang soial ekonomi, di rumah anak-anak juga mencontoh para orang tua yang tidak membaca juga. Jadi bagaimana mungkin ada reading habit dimana membaca jadi kebiasaan kalau di lingkungan rumah, keluarga, dll tidak mendukung untuk apa pembiasaan membaca?? Kita bahas yang di sekolah saja kalau begitu.

Kalau siswa dan guru mau membaca, baca apa ya kira-kira? Buku di sekolah minim, tidak berlangganan majalah atau Koran, yang ada buku pelajaran, so bagaimana dong? Yang dibaca saja tidak ada? Waduh ini masalah baru. Saya pun menghimbau para guru untuk membawa bahan bacaan mereka di rumah untuk dikumpulkan di sekolah. Kami berikan label sehingga tidka akan tertukar atau hilang, kalau-kalau suatu saat nanti guru ingin mengambilnya kembali. Informasi mengenai kebutuhan bahan bacaan pun kami sebarkan. Mulailah banyak terkumpul bahan bacaan seperti majalah, koran, novel, buku-buku bacaan lain dan kini kami punya mini library. Alhamdulillah.

Bahan bacaan sudah ada, tetep saja belum dimanfaatkan. Saya pun menyusun program wajib baca di kelas membaca. Pembiasaan membaca. Ide yang muncul saat itu hanya sederhana, bagaimana para siswa suka membaca. Akhirnya program yang kemudian kami beri nama DEAR (Drop Everything and Read) tersebut dilaksanakan. Program membaca dilaksanakn setiap hari Jum’at sekitar jam 10.30 WIB (sebelum jumatan). Saat bel pelajaran berbunyi, semua warga sekolah: guru, siswa, bahkan office boy pun berhenti melaksanakan aktivitas, internet off, computer off, semua harus memilih bahan bacaan kesukaan (buku, majalah, koran, al quran, dll) dan mulailah membaca. Khusus para siswa harus menuliskan synopsis usai membaca.
Sinopsis. Ya, ringkasan atas apa yang dibaca siswa harus dikumpulkan dalam map portofolio siswa dan direview setiap bulan, bahkan anak-anak yang hanya menyalin tidak meringkas, kami ‘uji’ dengan interview. Masih saja ada anak yang hanya menulis apa yang ada dilembar yang di abaca. Bisa dimaklumi kemampuan menulis masih sangat rendah. Ya…membaca saja sulit, apalagi menulis.
Semua sedang berjalan, perlu dievaluasi, tapi setidaknya kami sudah mencoba. Soal hasil kita lihat proses yang berjalan, dan hasil evaluasi untuk perbaikan. Bagaimanapun, membaca adalah kunci utama bagaimana anak-anak belajar banyak hal termasuk dalam membentuk karakter anak. Sehebat dan secanggih apapun materi dan bahan bacaan di website, toh nyatanya printed reading materials masih sangat penting, bahkan menurut saya jauh lebih penting untuk dibaca dan dikuasai. Mari tumbuhkan minat baca siapapun di usia berapapun. Berhenti mengeluh, berhenti menyalahkan, tumbuhkan motivasi dan mulailah rajin membaca! Reading habit!
#Refleksi untuk diri saya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s