APAKAH ANAK-ANAK KITA MEMAHAMI MATERI YANG MEREKA PELAJARI?

Benarkah para siswa atau anak-anak kita memahami apa yang mereka pelajari di sekolah? Sudah berkali-kali saya menemukan beberapa siswa yang membuat saya bertanya-tanya akan kemampuan dan hasil belajar mereka. Benarkah mereka belajar? Benarkah mereka paham atas apa yang mereka pelajari? Apakah mereka tahu apa tujuan mereka mempelajari sesuatu? Apakah siswa memahami dan mengetahu bagaimana menerapkan materi pelajaran yang mereka terima di sekolah?

Beberapa kali saya sempat terlibat dalam rekrutmen guru baik guru bahasa Inggris maupun guru mata pelajaran lainnya. Tidak jarang juga saya merekrut beberapa tenaga administrasi, sekretaris dan beberapa posisi tertentu dalam perusahaan. Seringkali juga saya berbagi cerita dengan teman-teman saya yang memiliki pengalaman yang sama dalam perekrutan. Sebagian besar bisa saya simpulkan komentar teman-teman saya yang saya amini, saya setuju adalah: “Anak-anak sekarang kok tidak bisa apa-apa ya, tidak kompeten, lebih parah lagi memiliki attitude yang boleh dikatakan buruk, padahal dari universitas terkenal, IP nya tinggi…..dst.” Tentu saja ini tidak berlaku keseluruhan. Semoga saja hanya kebetulan yang kami temui adalah sarjana freshgraduate yang ‘kurang’ memenuhi harapan kami. Tapi bolehlah kita tengok sedikit mengulas apa yang saya alami selama proses penyiapan calon sarjana tersebut, yaitu dalam proses belajar mengajar baik di tingkat sekolah menengah maupun di bangku perguruan tinggi.

Seminggu yang lalu saya menemukan siswa saya, seorang mahasiswa semester 1, di kelas Bahasa Inggris yang saya ampu, tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana. Jika terkait materi memang masih banyak yang kemampuan bahasa Inggrisnya minim. Hal ini tentu akan ada dalam pembahasan yang berbeda. Yang saya garis bawahi adalah cara bernalar mahasiswa tersebut kurang. Ketika saya minta dia menceritakan keluarga dalam bahasa Inggris, selain susunan kalimatnya salah, logika berpikirnya juga tidak jalan. Dia menyampaikan ayahnya berusia 33 tahun, ibunya 31 tahun, kakak pertamanya 27 tahun dan dia sendiri 19 tahun. Awalnya saya masih menyangka dia salah menyebutkan angka dalam bahasa Inggris, namun ketika berulang kali saya konfirmasi dalam bahasa Indonesia dengan berbagai pertanyaan mengenai kebenaran informasi tersebut misal,”Jadi ketika ibumu berusia 4 tahun, beliau melahirkan kakak pertamamu?” dan dijawab,”Iya.”, begitu terus menerus, baru saya sadari ternyata memang itu jawabannya. Tak sampai di situ, saya memanggil temannya dan meminta bantuan dosen lain barangkali saya salah dengar. Ajaib. Dengan wajah mulai pucat, jawabannya tetap sama. Saya pun memintanya menulis dan alangkah kagetnya setelah tulisan tersebut saya periksa, dan saya pun memeriksa semua catatannya di beberapa mata kuliah. Dia menuliskan kata-kata bahasa Inggris dengan menuliskan cara mengejanya, misal color menjadi ‘kaler’, toolbar menjadi ‘tulbar’, fine menjadi ‘fain’ dan masih banyak lagi. Saya juga menemukan beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang ditulis dengan tidak tepat. Bagaimana dia bahkan bisa lulus SMA?

Baiklah saya kembali ke proses belajar mengajar di SMA. Kemarin saya baru saja ada diskusi dengan para guru di Sekolah Menengah Atas tempat saya juga berbagi ilmu. Sekolah bebas biaya ini memang khusus untuk anak-anak yang kurang mampu dari segi ekonomi, rata-rata berasal dari keluarga pemulung, pedagang keliling, buruh, nelayan dan sejenisnya. Evaluasi koordinasi yang biasanya berlangsung maksimal dua jam pun menjadi hampir 4 jam dengan. Ini akibat topik evaluasi kami yang super seru yakni beberapa anak kelas XI belum bisa berhitung sederhana dan menuliskan maupun membaca angka dalam ribuan mapun jutaan dalam Geografi. Beberapa siswa kelas X juga terkendala hafalan saja, ketika pertanyaan dibalik sudah tidak bisa lagi menjawab pertanyaan Biologi yang sederhana dalam penerapan sehari-hari. Beberapa anak hanya mampu menyelesaikan soal Matematika, Fisika atau Kimia dengan cara yang sama persis seperti contoh yang disampikan guru sebelumnya. Pertanyaan diubah sedikit saja sudah kebingungan dan tidak mampu menyelesaikannya. Belum lagi membahas masalah sikap para siswa yang cenderung malas, manja, tidak tertib, berbohong, dan sebagainya. Panjang lebar bahkan mungkin tidak selesai dalam semalam kalau diurai satu-satu. Hal-hal yang seharusnya sudah dikuasai saat SD maupun SMP ternyata belum bisa sama sekali. Bagaimana mungkin juga mereka bisa lulus?

Banyak lagi kasus serupa yang menimbulkan pertanyaan dan keresahan setidaknya pada diri saya sendiri. Kekhawatiran juga karena saya juga memiliki anak usia sekolah yang tentu saja tidak ingin mengalami hal serupa dengan anak-anak tersebut di atas. Adakah yang salah dengan system pendidikan kita? Bisa jadi. Tapi rasanya tidak ada ujungnya juga ketika mencari kambing hitam atas segala yang terjadi di dunia pendidikan kita. Banyak faktor yang harus diurai satu-satu. Bisa saja di kelas selama ini anak-anak ‘pura-pura’ belajar dan guru ‘pura-pura’ mengajar. Yang penting lulus UN, bisa lanjut ke jenjang berikutnya. Bagaimana bisa lulus UN? Gampang saja, bahkan tidak perlu sekolah, masukkan saja di bimbingan belajar (bimbel) selama satu tahun terakhir, bisa dipastikan lulus UN dan melaju ke jenjang berikutnya sampai ke perguruan tinggi. Kenapa harus juga ada bimbingan belajar? Kalau di sekolah sudah melayani siswa dengan baik dan cukup belajar di sekolah, kepana harus ada bimbel di luar? Mengapa kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak cukup bagi siswa? Apakah guru tidak kompeten dalam menyampaikan materi? Bagaimana dulu guru-guru tersebut belajar untuk mengajar? Apakah kualitas guru-gurunya rendah? Kenapa banyak guru tidak kompeten dan professional? Ataukah kurikulum yang tidak sesuai? Bagaimana negara menetapkan kurikulum untuk pendidikan warganya? Atau evaluasi semacam UN tidak sesuai diterapkan untuk kelulusan siswa kita? Atau karena tingkat ekonomi siswa rendah sehingga terbatas fasilitas belajar? Atau pendidikan dalam keluarga dan lingkungan sekitar tidak mendukung? Haruskah kita menyalahkan anak-anak tersebut bahwa mereka sudah bodoh sejak lahir? Saya rasa setiap manusia sudah diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangan, tetapi kemudian tidak juga harus menjadikan kekurangan itu sebagai senjata memperlemah diri. Seperti telur dan ayam, pertanyaan ini akan terus saja pada siklus yang tak berujung pangkal.

Akankah kita tidak peduli? Bagaimana kalau itu terjadi pada anak kita sendiri yang kelak juga akan bersaing di era yang semakin canggih dan global? Akankah mereka siap? Jika kita mau peduli, apa yang bisa kita lakukan? Saya berpendapat bahwa kontribusi kita meminimalisir gejala-gejala buruk di masa depan generasi muda bisa dimulai dari peran kita sesuai bidang dan kompetensinya. Misalnya kita sebagai orang tua, bisa terlibat dalam proses belajar anak di sekolah, memantau perkembangan belajarnya, bukan memanjakan anak dan mengambil alih tugas dan tanggung jawab anak. Sebagai guru seperti saya misalnya, berusaha sebaik mungkin dan semaksimal mungkin dalam tugasnya mengembangkan potensi, bakat dan minat para siswa, bukan sekedar berpura-pura mengajar, melainkan mengajar dengan hati yang sungguh, terus belajar, berkreasi mencari berbagai cara untuk membantu siswa belajar di sekolah dan menyiapkan mereka untuk masa depannya. Contoh konkritnya misal dengan perencanaan mengajar yang baik, melaksanakan proses KBM yang menyenangkan dan mengevaluasi kegiatan tersebut dengan tepat, mengikuti berbagai kegiatan untuk pengembangan diri seperti training, workshop dll, banyak membaca, belajar menulis dan masih banyak lagi. Masih banyak hal-hal kecil yang bisa kita lakukan ketika kita tidak punya wewenang dan kekuasaaan penentuu kebijakan. Setidaknya dari diri sendiri yang paling sederhana dan yang paling dekat. Semoga ada perubahan besar dari tindakan kecil dan sederhana dari kita sebagai pengajar dan sebagai orang tua yang sama-sama bertugas mendidik. Amin. Mari menjadi the real agent of change. ☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s