BELAJAR JADI GURU DI “SOKOLA RIMBA”

sokola rimba

sokola rimba

Usai menonton film Sokola Rimba kemarin, saya sudah tidak sabar menuliskan pengalaman saya di sini.. Meskipun sudah tayang sejak 21 November 2013 lalu, saya baru sempat menonton pada hari Minggu, tiga hari setelah pemutaran perdana. Saya memang sudah lama berniat menonton film yang diangkat dari buku kisah nyata pengalaman ibu guru Butet Manurung di hulu Makekal Hutan Dua Belas, Sumatera. Tak beda dari buku yang lembar demi lembar penuh inspirasi, dalam film ini adegan demi adegan sarat makna, terutama bagi saya yang seorang guru.

Saya mengajak anak saya menonton agar dia bisa melihat bagaimana kehidupan anak-anak rimba melalui film ini. Mengambil jam tayang setelah makan siang, membeli tiket dan memilih tempat duduk dengan leluasa. Sekitar 7 orang saja yang menonton film pada jam tayang siang itu. Mungkin banyak orang sedang sibuk, atau memang menonton film lain yang juga cukup menarik terutama untuk remaja, seperti Thor, the Hunger Game: Catching Fire, Noah, dll. Antrian pembelian tiket film-film tersebut nampak lebih banyak. Kami pun menikmati ruangan studio 8 nan luas itu dengan leluasa.😀 Saya menikmati sekali film ini. Riri Riza, sang sutradara handal memang tak diragukan lagi dalam menggarap film-filmnya, seperti juga Laskar Pelangi. Saya banyak belajar dari membaca buku dan menonton film Sokola Rimba. Semoga anak saya juga setidaknya bisa melihat bagaimana kehidupan orang-orang rimba dan anak-anak di sana.

Banyak hal yang sungguh menjadi inspirasi dan pelajarn untuk saya sebagai guru.

  1. Setiapanak berhak atas pendidikan, termasuk anak rimba. Dengan kehidupannya di sana yang jauh dari dunia luar, nyaris mustahil ada orang yang bersedia mengajar di sana, bagaiamana kemudian mereka akan mengubah kehidupan mereka, bahkan dengan aturan adatnya justru mereka khawatir menjadi pintar. Ibu Guru Butet telah membuat saya berpikir, saya dan mungkin banyak rekan guru yang memilih-milih tempat mengajar, misal mengajar di kota (bukan di desa), mengajar di sekolah favorit, dengan fasilitas lengkap, mengajar di sekolah anak-anak kaya, sekolah internasional, sekolah dengan biaya per siswa sangat mahal, sekolah anak-anak pintar, dan sebagainya. Beruntung ibu guru Butet bisa berpetualang sekaligus berbagi ilmu dengan anak-anak rimba dengan kesempatan yang dia dapat dalam LSM tempat dia bekerja.
  2. Sekolah tidak identik dengan gedung-gedung, kelas-kelas, fasilitas lengkap dan buku-buku referensi. Sokola Rimba menjadikan alam sebagai tempat belajar apa saja, tak terbatas ruang dan waktu. Sebagian besar guru akan bangga jika menyebutkan sekolah yang memiliki bangunan besar, luas dan fasilitas lengkap dengan biaya sekolah yang mahal dan padat kegiatan. Film ini menyentil saya untuk terus berbagi ilmu, mengajar dan belajar di mana saja dan dengan siapa saja.
  3. Guru harus terus belajar, tidak sekedar mengajar. Dalam film ini orang luar termasuk ibu guru Butet belajar bagaimana anak-anak rimba melakukan banyak hal dengan cinta kasih, tulus membantu, jujur, peduli lingkungan, bisa dikatakan mereka jauh lebih beradab daripada orang –orang luar rimba. Guru-guru banyak yang merasa menjadi orang paling pintar, paling tahu, harus dihormati, harus diteladabi padahal sikapnya belum tentu patut dijadikan teladan. Guru mungkin juga ada yang merasa tidak perlu belajar lagi padahal itulah tanda dia ‘berhenti’ menjadi guru. Guru dan setiap kita manusia sesungguhnya belajar dari orang lain disadari atau tidak, bahkan dalam hal sekecil apapun. Tugas guru membantu siswa menggali potensi, mengembangkan bakat dan minat mereka, bukan memamerkan ilmu yang sudah didapat dan menunjukkan ketidakbisaan siswa-siswanya.
  4. Setiap anak itu unik. Dalam film ini tergambar sekilas betapa sulitnya mengajar anak-anak rimba, bahkan untuk hal dasar membaca, menulis dan berhitung. Dengan kegigihannya, anak-anak rimba yang pada dasarnya cerdas ini akhirnya berhasil juga. Tergambar juga dalam film ini bagaimana ibu guru Butet sabar mengajari anak-anak rimba yang lambat belajar, baik siang maupun tengah malam. Banyak cara mereka belajar, sambil berjalan-jalan, sambil menggunakan benda-benda di rimba, sambil bercerita dan lainnya. Guru tidak memaksakan metode mengajar tertentu atau materi tertentu, tapi menyesuaikan kebutuhan siswa.
  5. Ilmu pengetahuan sebagai senjata. Belajar dan mengajar dengan tujuan yang jelas dan cara yang tepat. Meski sederhana, dalam film ini, Nyungsang Bungo tak henti belajar agar bisa membaca perjanjian orang-orang luar dengan tumenggung rimba hilir Makekal, karena dia merasa ada yang aneh dengan lembar perjanjian tersebut., sehingga banyak penebangan liar. Guru semestinya memahami kebutuhan siswanya juga. Kadang tidak perlu materi dan bahasa yang muluk-muluk untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Hal sederhana namun berarti dan kontekstual, sesuai tujuan justru lebih bermanfaat. Kenali dan pahami siswa kita. Sekecil dan sesederhana apapun ilmu pasti akan bermanfaat, terutama untuk mengubah kehidupan.
  6. Guru tak hanya mengajar, tapi mendidik. Dalam film itu banyak adegan dari kisah ibu guru Butet dimana dia tidak hanya mengajarkan membaca, menulis dan berhitung, tetapi juga bersikap, menghargai, dan nilai-nilai dalam kehidupan, tak segan bu guru Butet menggunakan nada tinggi untuk anak-anak yang tidak mendengarkan, namun tidak marah. Bahkan guru belajar dari siswanya. Saya suka bagian cerita film ketika Nyungsang Bungo bercerita bagaimana ayahnya seorang pemanjat pohon madu yang ulung. Tidak semua orang mampu menaklukkan pohon madu yang tinggi. Perlu strategi, perlu pikiran jernih dan positif, tidak ada niatan jahat. Konon, pemanjat pohon akan menemukan banyak hal aneh saat di atas pohon, sesuai dengan suasana hati dan pikirannya. Jika ketakutan dan menemukan hal buruk, atau terlena dengan hal yang indah, bisa membuat pemanjat jatuh, dan meninggal.
  7. Do what you love, love what you do. Itulah kira-kira yang dilakukan ibu guru Butet bertahan di hutan belantara, pergi dan kembali lagi. Rasa cinta nya pada anak-anak rimba membuatnya terus ingin mengajar. Hal ini menyadarkan saya, meyakinkan diri bahwa mengajar adalah panggilan hati, dilakukan dengan senang hati. Sama halnya dengan ibu guru Butet yang menghadapi pertentangan hati ketika menghadapi LSM tempat ia bekerja yang seolah tidak peduli dengan nasib yang dialami orang-orang rimba yang terancam dan tergusur, dengan keinginannya yang kuat untuk mengajar anak-anak. Belum lagi banyaknya pertentangan dari orang-orang rimba yang khawatir anak-anaknya akan meninggalkan rimba ketika belajar dan jadi anak pintar. Masih ada pula kepercayaan orang rimba bahwa belajar justru menimbulkan malapetaka hingga ibu guru Butet pun harus meninggalkan hilir. Mungkin saat ini kita para guru juga sering mengalami pertentangan dalam diri, terhadap kebijakan atasan, kebijakan daerah, kebijakan pemerintah yang kadang tidak mendukung guru untuk berkembang dan bekerja lebih professional. Kadang juga tidak sinkron antara program atau kebijakan pemerintah dengan kondisi dan fakta di lapangan. Keberanian, keyakinan dan kecintaan lah yang menjadi dasar penentuan sikap untuk memutuskan pertentangan diri itu.

Apakah semua guru mengajar dengan hati? Kenapa Anda menjadi guru?
Sepertinya tidak ada habisnya menceritakan bagaimana kita sebagai guru belajar di Sokola Rimba ini, baik buku maupun filmnya. Guru yang hebat adalah yang menginspirasi, dan ibu guru Butet tak hanya menginspirasi siswanya, namun juga guru lain termasuk saya. Jika memang belum ada kesempatan serupa ibu guru Butet, guru setidaknya mengajar dan mendidik dengan sepenuh hati, dimanapun mengajar, siapapun yang diajar, dan materi apapun yang disampaikan. Mari menjadi agen perubahan. Selamat Hari Guru. ☺

One thought on “BELAJAR JADI GURU DI “SOKOLA RIMBA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s