MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) ATAU LESSON PLAN YANG KONTEKSTUAL

Lesson Plan atau biasa disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah sesuatu yang cukup familiar bagi guru maupun kalangan pendidik. RPP ini merupakan bagian dari perangkat administrasi pembelajaran sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. RPP memuat dengan jelas tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, indikator keberhasilan pembelajaran, penilaian dan evaluasi pembelajaran, termasuk referensi sumber belajar dan sarana pendukung dalam proses pembelajaran nanti. RPP multak diperlukan dan wajib hukumnya dimiliki seorang guru dan para pengajar/pendidik sebelum melaksanakan pembelajaran. RPP juga sebagai bukti bahwa seorang guru memang mampu mengajar dengan benar.

Seberapa pentingkah RPP ini bagi mereka para guru? Sangat penting. Kita ibaratkan kita akan bepergian dengan pesawat komersil, tentu ada tujuan dan akan memilih penerbangan sesuai dengan tujuan kita, menyesuaikan waktu dan akan muncul biaya yang muncul. Setiap penerbangan tentu wajib memiliki flight plan yang digunakan pilot dan crew untuk terbang. Ada bandara yang dituju, ada rute yang dilewati, ada data penumpang, ada informasi cuaca, ada spesifikasi kelaikan pesawat, ada kecukupan bahan bakar, ada awak kabin yang turut serta, dan ada estimasi waktu tempuh. Tanpa flight plan, pesawat tersebut tidak layak terbang. Tidak mungkin juga pesawat terbang tanpa tujuan dan tanpa estimasi waktu dan lainnya. Semua terencana dengan detil dan jelas sehingga seluruh penumpang dan awak pesawat tiba di bandara tujuan dengan selamat dan tepat waktu. Perkara lain jika nanti tiba-tiba ada badai di atas awan dan sebagainya di luar flight plan, pilot bisa mengambil alternatif solusi. Demikian halnya dengan RPP, tujuan pembelajaran, materi yang dipelajari dan bagaimana agar siswa mampu menguasai materi untuk mencapai tujuan berupa kompetensi tertentu, serta apa-apa yang digunakan untuk mendukung proses agar mencapai tujuan tersebut, semua harus disiapkan dengan baik.

Apa jadinya jika kegiatan belajar mengajar tanpa rencana? Jika guru gagal menyusun rencana, RPP, maka guru sedang berencana untuk gagal. Begitu kira-kira jika dikaitkan dengan kata-kata bijak: If you fail to plan, you plan to fail. Kelas akan berlangsung tanpa arah. Guru akan mengajar ala kadarnya. Siswa akan menghabiskan waktu di bangku sekolah bertahun-tahun namun tidak menguasai satu pun ketrampilan dan kecakapan hidup (life skill) sehingga tidak mampu bersaing. Kepemilikan RPP tidak merujuk hanya kepada guru baru saja, pun juga guru yang telah lama mengajar. Tidak jadi masalah mengenai formatnya yang berbeda-beda, selama poin-poin yang ada dalam RPP dipenuhi: tujuan, indikator, materi, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar, alokasi waktu, sarana pendukung, dan penilaian. Yang justru jauh lebih penting adalah RPP disusun dengan jelas, kontekstual dan aplikatif dalam kegiatan pembelajaran. Namun faktanya, masih saja ada guru yang enggan menyusun RPP dan ‘terpaksa’ menyusun karena diminta oleh kepala sekolah.

Sudah seriuskah guru menyusun RPP (lesson plan) yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan mengajar sesuai RPP yang disusun? Semua guru tentu sudah sangat ‘fasih’ menyusun RPP karena merupakan syarat administratif sebagai perangkat pembelajaran. Tetapi tidak semua guru mampu menyusun sekaligus menerapkan RPP (lesson plan) tersebut dalam kegiatan belajar mengajarnya untuk mencapai kompetensi tertentu. RPP disusun, dicetak, ditandatangani dan disimpan rapi dalam file administrasi pembelajaran. Sah. Tugas menyusun RPP di awal semester pun usai. Ada guru yang berpikir bahwa yang penting sudah tercatat mengumpulkan RPP kepada kepala sekolah dan punya salinannya. Mengajar? Sudah ‘di luar kepala’. Masihkah terjadi hal demikian? Masih ada. Beberapa kali sering saya temukan RPP (lesson plan) yang menjiplak dari RPP (lesson plan) guru lain yang memiliki mata pelajaran sama, dari hasil browsing internet, tanpa dimodifikasi, sehingga saat akan dicetak dan dikumpulkan cukup diganti identitas sekolah dan identitas guru. Padahal sebagian RPP yang disalin tersebut sudah sangat bagus, cukup detail, runut, jelas dan interaktif. Sayangnya guru tidak memodifikasi sesuai kondisi siswanya dan guru bahkan tidak menggunakannya ketika mengajar. Sayang sekali…

Sudahkah RPP benar-benar digunakan para guru sebagai acuan saat kegiatan belajar mengajar? Bisa dilihat dari bagaimana persiapan guru sebelum masuk kelas, selama kelas berlangsung dan saat evaluasi pembelajaran atau penilaian. Guru yang cukup serius dengan kelasnya akan menggunakan RPP yang telah disusun sesuai kebutuhan siswa, kondisi sekolah dan pertimbangan lainnya. Guru menyiapkan scenario pembelajaran dengan sebaik-baiknya, bahkan guru biasanya memiliki sekedar lembar kehiatan, handout, materi presentasi interaktif, alat peraga, perlengkapan permainan, gambar, buku-buku menarik, dan bahkan guru telah memiliki rencana di akhir pembelajaran nanti, entah tugas atau kegiatan mandiri siswa. Guru yang siap biasanya ‘heboh’ tidak hanya mengenai teknis kegiatan belajar mengajarnya nanti, bahkan ke penampilan, cara bicara dan komunikasi termasuk jokes cerdas. Guru yang siap dan serius dengan RPP nya akan sangat siap dan antisipatif dengan berbagai kemungkinan yang terjadi di kelasnya dan tidak sesuai RPPnya. Guru yang demikian lah biasanya guru kreatif.

  • Guru yang menyusun RPP dengan benar akan menyampaikan kepada para siswa tujuan dan manfaat pembelajaran materi tertentu dalam kehidupan sebelum pelajaran dimulai.
  • Guru menyampaikan materi pembelajaran secara berurutan benar, bertahap dan berkaitan secara konsep, sehingga tidak ada penyampaian materi yang meloncat-loncat.
  • Guru menyusun scenario pembelajaran yang kontekstual, menarik, interaktif, dan menyenangkan.
  • Guru akan mengatur alokasi waktu yang tersedia secara tepat sesuai materi yang harus disampaikan dalam kurun waktu satu semester atau satu tahun ajaran.
  • Guru akan mencari referensi sumber-sumber belajar sesuai apa yang akan digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Buku adalah salah satu sumber belajar, tetapi guru sebaiknya tidak terjebak pada acuan satu buku tertentu. Selain buku-buku, ada berbagai sumber belajar seperti informasi media cetak dan elektronik, artikel dari berbagai situr, barang-barang di sekeliling kita, dan lainnya.
  • Guru menyiapkan alat/sarana pendukung kegiatan belajarnya seperti alat-alat permainan, alat peraga, contoh gambar, materi presentasi dalam slides, audio dan video, kertas, dan sebagainya.
  • Guru akan menyiapkan mekanisme evaluasi dan penilaian untuk mengukur tingkat pemahaman siswa, efektifitas belajar mengajar dan lainnya disesuaikan tujuannya.

Sudahkah RPP atau Lesson Plan Anda aplikatif, efektif dan kontekstual?🙂

One thought on “MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) ATAU LESSON PLAN YANG KONTEKSTUAL

  1. Pingback: Kurikulum 2013 Sma B Inggris - Website Sekolah Dasar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s