Serunya Sharing Bersama Para Guru di Banda Aceh

Baru. Haru. Seru. Tiga kata untuk menggambarkan perjalanan dan pengalaman saya saat berada di Banda Aceh tahun lalu.

Oktober tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi Banda Aceh memenuhi undangan untuk membagikan pengalaman mengajar kepada guru-guru di sana. Sebagian besar adalah guru bahasa Inggris, beberapa ada guru Matematika. Mereka adalah para guru yang mengajar di kursus bahasa, dan mengajar di sekolah. Mereka adalah guru-guru baru, masih di bawah lima tahun pengalaman mengajar. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Banda Aceh, ujung Indonesia paling barat, yang dijuluki serambi Mekah.

Saya berangkat dari bandara Soekarno Hatta hari Jumat pukul 1 siang dan mendarat di bandara Sultan Iskandar Muda (BTJ) sekitar pukul 4 sore dengan satu kali transit di Medan. Lama juga pikir saya, lebih lama daripada ke Singapura, Hampir sama lamanya dengan perjalanan ke Bangkok rasanya. Padahal ini Indonesia. Senang rasanya mendarat di Aceh disambut gerimis, meskipun bukan musim hujan. Bandara tidak terlalu besar, berada dekat perbukitan. Udara cukup segar. Begitu saya keluar pintu kedatangan, sudah dijemput Ms. Nita yang selama ini mengurus segala hal dari keberangkatan selama di Aceh hingga kepulangan saya. Saya pun baru berjumpa Ms. Nita di Aceh setelah sebelumnya kontak lewat sms dan bbm. Tidak sulit mencari penjemput dan orang yang dijemput di BTJ ini.

Saya sangat menikmati perjalanan dari bandara ke hotel tempat saya menginap. Tentu segudang pertanyaan saya sampaikan ke Ms. Nita yang mendadak jadi guide saya. Tentu saya juga berkenalan dengan Ms. Nita dan Mr. Aan yang menyetir. Setelah berbincang mengenai persiapan acara, saya memutuskan untuk mampir ke tempat acara sebelum menuju hotel. Perjalanan dari bandara ke hotel sekitar 30 menit, untuk menuju tempat acara sekitar 5 menit dari tempat menginap. Serba dekat kemana-mana, di sini juga tidak saya temukan kemacetan. Sebelum berangkat saya sudah browsing mengenai Aceh, meskipun saya nyaris tidak punya waktu untuk jalan-jalan. Hari Minggu sore saya harus kembali ke Jakarta. Senin pagi sudah harus standby untuk menguji peserta development program di Jakarta. Dengan keterbatasan ini saya masih berharap setidaknya bisa sholat di masjid raya yang masih kokoh kala tsunami 2004 lalu.

Tak terasa, sudah sampai di tempat yang akan digunakan hari Sabtu dan Minggu. Saya melihat ruangan, rupanya sudah rapi. Ini bukan pelatihan atau workshop atau training besar sehinga tidak perlu tempat mewah seperti di hotel atau gedung-gedung besar. Seperti sudah saya sepakati sebelumnya, di mana saja yang penting nyaman dan tidak menyulitkan rekan-rekan guru yang hadir. Jumlah peserta sekitar 15 orang, lebih banyak dari yang disampaikan ke saya sebelumnya. Saya sudah siapkan rundown acara dan materi sharing sehingga berharap teman-teman yang hadir akan cukup puas dengan hasil diskusi nanti. Saya juga sekaligus bertemu dengan pemilik tempat tersebut yang juga memiliki usaha kursus bahasa Inggris di beberapa tempat di Aceh.

Menjelang magrib, sekitar setengah tujuh malam, saya pun diajak ke Masjid Raya Baiturrahman banda Aceh. Alhamdulillaah kesampaian juga meskipun malam-malam. Tidak jauh dari tempat acara, sekitar 15 menit kami sampai di masjid raya langsung sholat magrib. Subhanallaah ini rupanya masjid yang cukup kokoh, yang menjadi satu-satunya bangunan yang tak goyah sedikit pun ketika air tsunami menerjang. Semua rumah yang dulu hancur di sekitar masjid, sudah dibangun kembali. Bagaimana dahsyatnya air memporak-porandakan semua yang dilewatinya, kecuali saat di masjid raya, air tenang, terbelah dan hanya masuk ke pelataran masjid, tidak ke dalamnya. Usai solat pun saya tak lupa berfoto-foto, seperti yang dilakukan sebagian besar jamaah yang melakukan sholat di masjid raya tersebut. Sebelum kembali ke tempat menginap, saya diajak menikmati makan malam sate khas Aceh di kawasan wisata kuliner tak jauh dari masjid raya. Sambil kembali ke tempat menginap, saya melihat suasana malam kota Banda Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Day 1

Sabtu pagi saya menyantap sarapan segera. Saya sudah jadwalkan jam 8 pagi acara dimulai. Meskipun ternyata jam 8 pagi di Aceh masih sangat pagi. Kata Ms. Nita biasanya jam 9 atau 10, tetapi hari itu saya sampai di tempat acara jam 8 kurang 10 menit dan teman-teman guru sudah hadir di sana. Kami pun memulai kegiatan kami hari pertama. Sebelumnya saya sudah bertanya kepada Ms. Nita mengenai background guru-guru yang hadir, sehingga tidak terlalu kaget dan tidak sulit untuk nge-blend dengan mereka. Memang sengaja tidak banyak yang diundang, supaya fokus pada tujuan diselenggarakannya yakni makin mahirnya guru-guru muda, kreatif dan professional. Program ini bukan inisiatif dari pemerintah, melainkan perorangan yang melihat bahwa banyak guru yang perlu mendapat pengalaman lain mengenai mengajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Acara ini tidak dipungut biaya tetapi cukup terbatas.

Hari pertama ini diawali dengan kenalan dengan para guru. Fokus sharing hari ini adalah mengenai bagaimana menjadi guru yang kreatif, professional dan bagaimana mengajar siswa dengan menyenangkan. Banyak praktik yang kami demonstrasikan. Kami juga membicarakan bagaimana mempersiapkan kelas, termasuk perangkat yang diperlukan, bagaimana kelas ‘hidup’ . Sebagian besar dari mereka memiliki background pendidikan yang mendukung, meskipun memiliki skill yang berbeda, kompetensi yang berbeda mengenai pengajaran bahasa Inggris dan persepsi yang berbeda mengenai menjadi guru. Tetapi dari semua yang hadir, semua sudah mantab yakin menjadi guru.

Saat istirahat sholat dan makan kami pun berbagi cerita mengenai kehidupan sehari-hari, keluarga dan sebagainya. Baru ada 2 guru yang pernah berkunjung ke tanah Jawa, dan baru 1 orang yang penah datang ke Jakarta. Mereka rata-rata asli dari Aceh, meskipun pinggiran. Dari desanya dia harus melelui jalan darat sekitar 8 jam dari Banda Aceh. Sebagian besar memang pendatang ke pusat kota karena kuliah dan bekerja di Banda Aceh. Mereka adalah anak kos, kecuali 3 orang yang telah menikah. Cerita seru dan haru adalah saat mereka mengenang kejadian tsunami Aceh waktu itu. Saya sampai tak sanggup menelan makanan mendengar cerita mereka yang penuh keajaiban.

Acara diskusi, sharing, demo pun berakhir menjelang magrib, jam 6 sore. Lebih satu jam dari jadwal yang saya buat. Saya berusaha tidak menggangu malam minggu mereka, namun apa daya, antusiasme mereka membuat saya sangat bersemangat. Hari pertama memang membuat saya agak kaget, mereka guru muda yang belum banyak berpengalaman bahkan minim, sehingga saya harus memulai dengan cerita-cerita pengalaman saya, contoh-contoh sederhana dalam pembelajaran dan mengulang dari hal yang paling mendasar dari kegiatan belajar mengajar. Syukurlah mereka sangat kooperatif dan selalu antusias untuk praktik.

Malam Minggu, saya kembali ke hotel, mandi dan bersiap keluar untuk makan malam. Kali ini saya ditemani Ms. Nita dan Ms. Icha. Bukan naik mobil, saya pun akhirnya bisa merasakan keliling Banda Aceh dengan naik motor. Suasana malam minggu di Aceh ternayata cukup ramai, tetapi kami baru bis keluar sekitar pukul setengah 8 malam karena semua toko dan usaha apapun tutup saat magrib dan buka kembali setelah isya. Semua perempuan muslim Aceh berkerudung kecuali pendatang atau yang non-muslim. Sampailah kami di warung Mie Aceh yang sangat ramai. Itu tempat favorit orang makan Mie Aceh. Hmm saatnya makan mie aceh di Aceh. Saya juga makan rujak Garuda. Benar-benar penuh perut rasanya. Tak lupa saya mampir ke pusat oleh-oleh Aceh khawatir taka da waktu lagi sebelum kembali ke Jakarta. Jam 11 malam saya sudah bersiap tidur lagi di penginapan.

Day 2

Hari Minggu adalah hari keluarga. Namun tidak bagi para guru di sini. Mereka kembali datang untuk berbagi pengalaman di hari kedua masih di tempat yang sama. Acara kembali dimulai pukul 8 pagi. Agenda hari kedua adalah praktik menerapkan apa-apa uang sudah kami bicarakan hari pertama, yakni praktik mengajar dengan menyenangkan. Topik lain adalah membuat media pembelajaran sederhana, dan ditutup dengan evaluasi dan penilaian mata pelajaran bahasa.

Semua sudah siap dengan agenda hari ini. Semua guru berusaha tampil sebaik-baiknya, dalam waktu sekitar 10 menit mereka berusaha menggunakan instruksi dengan bahasa Inggris dan berusaha menggunakan banyak aktivitas seru. Peserta lainnya menjadi siswa, termasuk saya. Dari penampilan mengajar yang mereka lakukan, sudah ada progres yang cukup signifikan. Mereka nampak percaya diri untuk bernyanyi, menari, bermain game, dan berusaha menjadikan kelas menarik. Siswa atau teman lainnya lah yang akan turut memberikan penilaian. Feedback dari teman ini cukup ampuh.

Usai praktim mengajar atau microteaching, kami membuat media pembelajarn sederhana. Beberapa perlengkapan sudah tersedia, bahkan ada yang membawa sendiri dari rumah. Saya memang menyarankan alat bantu pembelajaran meskipun sederhana, terutama bagi mereka yang mengajar anak-anak TK atau SD. Saya juga menyarankan mereka menghias kelas semenarik mungkin agar tercipta suasana yang mendukung. Semangat para guru ini setidaknya Nampak dari bagaimana mereka menyelesaikan media pembelajaran masing-masing, bahkan sayang sekali meninggalkan untuk istirahat sholat dan makan.

Creating teaching media

Creating teaching media

Setelah istirahat makan siang, ada sekitar 2,5 jam lagi untuk kami sharing sebelum acara ditutup dan saya harus kembali ke Jakarta dengan penerbangan terakhir jam 4 sore. Maka jam 1 pun kami sudah kembali berkumpul. Diskusi selanjutnya adalah berbagi mengenai evaluasi dan penillaian terutama dalam pembelajaran bahasa. Di bagian ini mereka juga cukup bersemangat. Rasanya kurang waktu, ada saja pertanyaan yang tidak habis-habisnya. Namun waktu juga lah yang membatasi pertemuan kami. Hingga sampai juga kami di akhir pertemuan dua hari.

Di akhir sesi, saya kembali menanyakan komitmen mereka menjadi guru yang menyenangkan, kompeten, kreatif dan professional. Mereka sungguh mantab menjawab untuk terus berupaya mengajar dengan sebaik-baiknya. Semoga niatan mereka terjaga untuk anak-anak calon pemimpin masa depan dari Aceh. Permainan penutup yang saya berikan sudha cukup menggambarkan komitmen mereka. Tak lupa kami berfoto bersama sebagai kenang-kenangan kami, serta berbagi kontak untuk kelanjutan komunikasi kami berikutnya. Saya pun bergegas menuju bandara.

Photo with some teachers in Banda Aceh

Photo with some teachers in Banda Aceh

Dua hari yang menyenangkan tak terlupakan. Melihat antusiasme mereka, lelah tak terasa dua hari telah terforsir tenaga saya. Ada harapan yang saya titipkan untuk para guru hebat tersebut, bahwa mereka yakin dengan pilihan dan akan serius menjalani peran dan tugas sebagai pendidik. Mereka bukan PNS, bukan guru tetap, tidak dekat dengan ibukota negara yang metropolis seperti Jakarta, tidak tergabung dalam organisasi apapun, namun mereka cukup punya semangat dan kepercayaan diri. Tidak bisa dibandingkan dengan guru-guru di pulau Jawa yang memiliki segala kemudahan. Namun saya yakin mereka cukup up-to-date. Semoga saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung kembali ke Aceh atau kota lain berikutnya.

Terimakasih teman-teman guru di Banda Aceh…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s