A New Chapter of Life – Postgraduate Mom Story

 

img_2147Sudah satu bulan dua minggu saya menempuh studi di UCL Institute of Education (IoE), London, United Kingdom. Setelah proses yang panjang, akhirnya saya mengalami bagaimana sekolah di kota sibuk ini. Tidak mudah seperti yang saya bayangkan, tapi tak juga sulit seperti yang saya khawatirkan. Beradaptasi di negeri empat musim, di salah satu universitas terbaik dunia, jauh dari anak dan keluarga, dan di saat sudah alam saya meninggalkan bangku kuliah adalah tantangan-tantangan yang luar biasa. Alhamdulillah saya mulai ‘mendarat’ dengan sempurna.

Satu tahun lalu adalah saat menentukan dalam hidup saya ketika memutuskan kembali kuliah. Ibu bekerja dan usia yang tidak muda lagi sempat membuat saya ragu. Beberapa kali lolos ujian masuk di UI dan UNJ dengan maksud “nyambi” kuliah sambil bekerja, ujung-ujungnya tidak diambil karena saya memilih sibuk bekerja, akhirnya saya ‘nekat’ memaksa diri kembali belajar formal. Saya merasa sudah saatnya kembali menuntut ilmu di bangku kuliah lagi, setelah sepuluh tahun lamanya. Alhamdulillah niat saya dimudahkan, saya mendapat beasiswa BPI LPDP Kementrian Keuangan untuk melanjutkan pendidikan.

Selanjutnya memilih satu dari tiga program dan universitas di Inggris, negara tujuan, yang cukup membuat galau karena ketiganya menawarkan LoA di saat yang hampir bersamaan. Bagi sebagian orang yang kuliah berbeasiswa mungkin akan mempertimbangkan kota mana yang akan dipilih berdasar biaya hidup, selain jurusan dan universitas. Saya pun sempat khawatir akan hal itu. Beruntung teman-teman terbaik dan keluarga saya mengingatkan untuk memantapkan niat dan masuk ke universitas yang terbaik dengan segala tantangannya di kota yang cukup ‘mahal’ ini. Meluruskan niat untuk menuntut ilmu, bukan untuk menghemat uang agar bertambah pundi-pundi tabungan atau bisa belanja dan jalan-jalan, adalah salah satu cara mengakhiri kegalauan.

Satu lagi yang tidak mudah bagi seorang ibu seperti saya melanjutkan kuliah di luar negeri adalah berpisah dengan keluarga, terutama anak semata wayang jagoan saya, Nobel. Beasiswa saya sesungguhnya memberikan family allowance mulai bulan keenam masa studi, sehingga seharusnya saya bisa mengajak keluarga ke London. Namun satu dan lain hal, terutama pilihan Nobel mengenai sekolahnya, membuat kami pilihan untuk terus sama-sama belajar di tempat berbeda. Bukan perkara mudah hingga sampai pada keputusan sementara saya berangkat sendiri. Beruntung teknologi berkembang sangat canggih, sehingga saya bisa tetap berkomunikasi dengan anak setiap saat. Perbedaan waktu 7 jam harus disiasati dalam komunikasi kami, mengatur waktu yang tepat untuk video call. Saya juga harus mempersiapkan anak untuk mengelola perasaan, membedakan perasaan sedih dan kangen, dan bagaimana mengatasinya. Dia ternyata mampu meyakinkan saya bahwa akan baik-baik saja di rumah ketika dia menunjukkan kemandirian sebelum saya berangkat. Saya pun kini tinggal terpisah dengan keluarga. Saya percayakan kepada Allaah swt sebaik-baik penjaga agar mereka dalam perlindunganNya. Semoga kami bisa bertemu saat masa libur sekolah nanti.

Sepuluh tahun tidak duduk di bangku kuliah adalah cobaan berat selanjutnya. Meskipun jurusan yang saya ambil, Curriculum, Pedagogy and Assessment, sesuai dengan bidang kerja saya dalam pendidikan guru, namun suasana kuliah tentu tidak sama. Beradaptasi dengan kampus baru dan teman-taman baru dari seluruh dunia menjadikan saya “jet lag” di minggu-minggu pertama. Saya terharu dan bangga bis abertemu guru-guru dan pelatih hebat dari berbagai negara. Yang lebih membuat saya percaya diri adalah mereka juga sudah cukup “berumur”, artinya juga sudah lama bekerja sebagai guru atau di bidang pendidikan cukup lama, dan sudah pula berkeluarga. Kami pun bisa lebih ‘nyambung’ ngobrolnya. UCL IoE memang mensyaratkan calon mahasiswa jurusan tertentu, seperti yang saya ambil,  harus memiliki pengalaman. Sebagai institusi pelatihan guru terbaik, tentu syarat itu sangat masuk akal. Deskripsi kuliah saya yang cukup ‘tough’ adalah Autumn Term 2016 ini saya tak sengaja ambil 3 modul masing-masing 30 credits, sehingga total saya menjalani 90 credits sampai Desember nanti. Term berikutnya saya akan menyelesaikan jumlah credit yang sama sekaligus disertasi. Bergulat dengan bacaan baik buku maupun jurnal merupakan makanan sehari-hari.

Suasana kelas yang kompetitif di awal masa kuliah cukup membuat saya patah semangat, apalagi saat kangen keluarga. Saya mengalami masa adaptasi yang berat, sampai pada minggu-minggu saya kuliah intensif dan menemukan titik balik untuk kembali ke niat. Saya lalu berpikir untuk menikmati proses ini, tanpa kekhawatiran dan tekanan. Pagi-siang-malam saya harus membaca, menulis essay, menulis critical review, diskusi, presentasi, dan saya penat setiap hari. Dan itu cukup sampai saat ini. Saya harus membuat hidup saya seimbang lagi. Bukan lagi mengenai gelar dan sertifikat kelulusan, melainkan proses pembelajaran yang bermakna dan bagaimana yang saya lakukan bisa bermanfaat kelak.

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa saya rangkum untuk persiapan ibu-ibu yang akan mengambil kuliah lagi, terutama yang akan menjadi bahan diskusi dengan keluarga:

  1. Mulai kapan (pemilihan waktu yang tepat, full-time atau part-time) dan dimana akan mengambil kuliah (dalam negeri atau luar negeri)
  2. Mengambil program sesuai minat atau pengalaman bekerja. Ini penting terutama akan mempermudah saat kuliah, bukan sekedar jurusan/program yang ‘laris’.
  3. Berangkat sendiri atau membawa serta keluarga. Bagi yang masih memiliki anak balita, opsi membawa serta keluarga sangat disarankan. Tetapi perlu dikomunikasikan juga tentang kesertaan suami untuk ikut, yang artinya suami rela meninggalkan pekerjaan saat ini atau mengaturnya dari jarak jauh.
  4. Menyiapkan keluarga yang ditinggalkan. Ini untuk ibu-ibu yang kuliah di beda kota dalam negeri atau beda negara . Maksudnya adalah mengatur jadwal kepulangan, atau cara komunikasi, dan memastikan semua siap sebelum keberangkatan. Lebih utama adalah mental anak.
  5. Menyiapkan diri untuk belajar formal. Saya yakin ibu-ibu bisa belajar di manapun dengan cara apapun untuk tetap menjadi ibu yang cerdas. Namun, pilihan kembali ke bangku kuliah harus disiasati berbeda. Mulai banyak membaca, berdiskusi, dan menulis adalah hal-hal yang harus kembali diaktifkan.
  6. Mengatur waktu. Ini hal paling penting untuk mengatur waktu untuk keluarga, pekerjaan (bagi yang part-time), waktu kuliah dan deadline tugas, dan waktu bersosialisasi. Menjaga keseluruhannya tetap berimbang itu PR berat, apalagi yang jauh dari keluarga. Memastikan semua berjalan pada track nya juga perlu strategi dan kerjasama dengan anggota keluarga lain (misal suami, keluarga, si mbak ART, tetangga, sahabat, guru anak di sekolah, teman kantor, dll).
  7. Adaptasi dengan perubahan kondisi. Perubahan pola sehari-hari tentu berpengaruh pada kondisi psikologis. Ibu-ibu yang akan kembali kuliah harus menyiapkan mental untuk menyesuaikan diri dengan berbagai hal misal tingkat stress di kantor dan kampus, kangen saat berjauhan dengan keluarga, miskomunikasi, adaptasi lingkungan baru, dan sebagainya.
  8. Ini masalah krusial bagi keluarga. Bagaimana mengatur keuangan untuk kembali bersekolah, bagaimana jika semua ‘diboyong’ pindah, bagaimana jika berjauhan. Persiapan keberangkatan dan selama masa belajar tentu memerlukan pengaturan khusus dalam masalah keuangan.

Tidak mudah memang, tetapi percaya bahwa setiap kesulitan ada kemudahan. Ibu-ibu baik yang bekerja maupun yang tidak, dan berniat menuntut ilmu di bangku kuliah lagi, saya sangat mendukung. Bukan masalah akan menjadi ibu rumah tangga tau ibu bekerja, yang debat dan ‘nyinyir’nya tiada akhir, melainkan untuk menjadikan hidup kita lebih berkualitas dan bermanfaat. Meskipun belajar bisa melalui jalur informal non formal, mengambil jalur formal juga bisa menjadi pilihan ibu-ibu, bukan hanya untuk yang berprofesi dosen dan peneliti. Toh ibu adalah ‘sekolah’ bagi anak-anaknya. Jadi, jangan khawatir untuk terus belajar.

Salam hangat dari Walford House,

London, 31 Oktober 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s